Selasa, 13 Juli 2010

Sekilas Tentang Syaikh Tarbiyah Kh. Rahmat Abdullah

Asslamualaikum....

Bismillah....

Temen2 yang insya Allah di Rahmati Allah, postingan kali ini sedikit banyak bercerita tentang Almarhum KH. Rahmat Abdullah, sang Murabbi dan seorang Syaikh Tarbiyah bagi kaum muda.....



Subhanallah beliau adalah orang yang sangat luar biasa, dan beliau menjadi salah satu motivasi ane untuk tetap berjuang di jalan dakwah ini.....dan film "SANG MURABBI (Guru)" yang dibuat untuk mengenang beliau benar-benar membuat siapapun yang menontonya akan kembali semagat mengemban amanah dakwah ini....





Gak banyak yang ane ketahui tentang beliau, hasil dari googling, cari sana sini dan insya Allah sedikit banyak bisa bercerita tentang beliau,..Bismillah....

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Beliau lahir di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada 3 Juli 1953. Sebagai anak Betawi, beliau lebih bangga apabila tanah kelahirannya disebut dengan Jayakarta, nama lain kota Jakarta yang diberikan oleh Pangeran Fatahillah. Belum puas ia menikmati kasih sayang ayahnya, di usia 11 tahun Ayah beliau dipanggil mengahadap Sang Khalik, tapi itu tak menyurutkan beliau untuk tetap belajar agama, waktu luang ia gunakan untuk mengaji dan (belajar membaca Alquran, baca-tulis Arab, kajian akidah, akhlak, dan fikih) yang dilanjutkan dengan sekolah dasar di siang hari. Almarhum ayahnya meninggalkan usia percetakan sablon sebagai penyampung hidup keluarganya....

Di era 60an beliau dikenal sebagai aktivis di KAMI dan KAPI padahal beliau masih duduk di bangku SMP, Melihat kurangnya perhatian sekolah terhadap masalah agama, beliau kemudian pindah sekolah ke Ma’had Asy-Syafi’iyah di Bali, Matraman, Jakarta, yang didirikan oleh K.H. Abdullah Syafi’i

Selepas MI, Rahmat remaja melanjutkan studinya ke jenjang MTs di Ma’had yang sama. Di sini, beliau mulai belajar ushûlul fiqh, mushthalahul hadîts, psikologi, dan ilmu pendidikan. Namun, pelajaran yang beliau gemari adalah talaqqî, yang dibimbing langsung oleh K.H. Abdullah Syafi’i; sosok kiai karismatik yang memberikan banyak inspirasi. Pada saat itu juga, Rahmat muda pun mulai merintis dakwah, berkhidmah kepada umat dengan mengajar di Ma’had Asy-Syafi’iyah dan Darul Muqorrobin, Karet, Kuningan

Hal ini beliau jalani selama bertahun-tahun, berjalan kaki dari Bali Matraman ke Karet Kuningan. Tak jarang untuk memberikan les privat beliau pun harus melewati lorong-lorong Jakarta hingga larut malam. Namun keikhlasan senantiasa menyelimuti beliau, karena semangat dakwah sudah terpatri dalam dirinya. Rahmat seorang santri yang cerdas, bersemangat baja, dan pantang menyerah, sehingga wajar kalau beliau kemudian dijadikan murid kesayangan K.H. Abdullah Syafi’i. Hingga pada tahun 1980, beliau bersama empat rekannya yang lain, sempat akan diberangkatkan ke Kairo untuk menempuh studi di Universitas Al-Azhar. Namun sayang, kesempatan itu gagal, karena ada ‘fitnah’ dari kalangan internal. Namun semangat Rahmat untuk belajar sedikit pun tak mengendur. Sejak beliau diperkenalkan K.H. Abdullah Syafi’i dengan seorang syekh dari Mesir, mulalilah beliau tertarik dengan pemikiran tokoh-tokoh Islam. Hasan Al-Banna, Sayyid Qutub, dan tokoh nasional seperti H.O.S. Cokroaminoto dan Muhammad Natsir, merupakah tokoh-tokoh Islam yang beliau kagumi. Dalam waktu singkat beliau melahap buku-buku mereka dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya.

Keseriusan Rahmat dalam menggeluti dunia dakwah membuatnya lupa kalau usianya sudah menginjak kepala tiga. Akhirnya, di usianya yang ke 32, Rahmat mengakhiri masa lajangnya, dengan menikahi Sumarni, adik kelasnya ketika masih sekolah di Ma’had dulu. Pernikahan pun dilangsungkan pada tanggal 15 Ramadan 1405 H. (1984). Dari pernikahan ini, beliau dikaruniai tujuh orang anak.
Sekalipun sudah berkeluarga, bukan halangan bagi Rahmat untuk terus berkiprah dalam dunia dakwah. Bersama Abu Ridho, Hilmi Aminudin, dan beberapa tokoh pemuda Islam pada saat itu, mereka tergabung dalam Harakah Islamiyah di era 80-an; halaqah dakwah yang terinspirasi dari pergerakan Al-Ikhwan Al-Muslimun yang didirikan Hasan Al-Banna. Inspirasi dakwah Hasan Al-Banna sebenarnya sudah lama menjadi acuan Rahmat Abdullah. Gayung pun bersambut. Beliau bertemu dengan rekan-rekannya yang seide dan sepemikiran. Bersama mereka, beliau berjuang melalui jalur pendidikan, kaderisasi, dan pengajian. Di wadah ini, Rahmat juga merintis sebuah majalah Islam yang banyak diminati pemuda Islam pada saat itu. Sayang, rezim orde baru yang berkuasa memaksa mereka untuk menutup segala aktivitas dakwahnya. Namun, hal itu tak menyurutkan semangat Rahmat untuk membuka lembaran baru di dalam dunia dakwah. Setelah lama berpetualang di dunia dakwah, bersama muridnya pada tahun 1993, Rahmat mendirikan Islamic Center Iqra’; lembaga Islam yang bergerak dalam pengembangan dunia pendidikan dan sosial, di Pondok Gede, Bekasi,

Pasca runtuhnya rezim orde baru, beliau terjun dalam dunia politik. Mungkin tak terbersit sedikit pun di benaknya untuk berkecimpung di dunia itu. Namun untuk kelangsungan dakwah, tugas itu pun akhirnya diemban. Pada tahun 1999, beliau diamanahi sebagai Ketua Bidang Kaderisasi DPP Partai Keadilan—partai yang didirikannya bersama dengan rekan-rekan seperjuangannya, setelah lebih sepuluh tahun dirintis bersama, yang kemudian menjadi Partai Keadilan Sejahtera. Kemudian beliau beralih menjadi Ketua Majelis Syuro sekaligus Ketua Majelis Pertimbangan Partai Keadilan Sejahtera.
Pada tahun 2004, karir politiknya kembali melejit. Beliau terpilih sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Bandung, Jawa Barat. Dan pada pencalonan beliaulah pertama kalinya Bandung dimenangkan oleh partai Islam, sejak awal pemilu tahun 1955.
Dai sekaligus budayawan. Itulah Rahmat Abdullah. Perjalanan hidupnya dalam menyelami lautan dakwah banyak beliau rangkai dalam untaian bait-bait syair, puisi, serta artikel-artikel kecil

Dai, demonstran, budayawan, dan filosof ini akhirnya menduduki kursi ‘empuk’ DPR di komisi III. Bersuara lantang, kritis namun tetap sopan, itulah kesan yang didapat dari rekan-rekannya di Parlemen. Amanat di partai pun dengan penuh semangat beliau emban. Hingga di penghujung hayatnya, beliau diamanahkan sebagai Ketua Badan Penegak Organisasi Partai Keadilan Sejahtera.


Ada yang datang dan ada yang pergi, itulah sunatullah. Selepas menyempurnakan wudlu untuk menunaikan salat Maghrib, beliau dipanggil menghadap Sang Khalik, Selasa, 14 Juni 2005. Beliau wafat pada usia 52 tahun. Umur yang tergolong muda untuk seorang politisi. Tidak seimbang memang dengan rambut kepala dan jenggotnya yang sudah memutih. Mujahid dari kampung Betawi ini wafat dengan meninggalkan istri dan tujuh orang anaknya.
Kota Jakarta pun seakan menangis, mengucurkan hujan deras mengiringi kepergian beliau. Puluhan ribu muridnya tanpa kuasa menahan haru mengantarkan jenazahnya ke persemayaman terakhir. Syekh tarbiyah itu telah pergi, namun semangat dakwah yang diwariskan kepada murid-muridnya takkan memudar. Selamat jalan Ustad Rahmat…. Perjuangan yang telah lama engkau rintis ini, akan terus kami lanjutkan




-------------------------------------------------------------------------------------------------

Subhanallah......jika temen2 sekarang ada yang mengikuti kajian rutin yang sering disebut Mentoring, Halaqoh, ataupun Liqo, pada awalnya beliaulah yang mencetuskan dan memperjuangkannya di Indonesia, sekarang tak perlulah sembunyi2 dalam menjalani liqo dan berdakwah, tapi dahulu, sejak awal dibentuknya tak bisa berdakwah secara terang2an banyak antek2 pemerintah yang mencurigai kegiatan ini, bersyukurlah kita yang bisa menikmati indahnya dakwah ini sekarang, tanpa perlu melewati masa2 sulit seperti dulu.

Kata2 motivasi dari beliau seolah menjadi penyemangat dalam menjalani dan terus berjuang dalam dakwah ini, berjuang dalam meneruskan cita2 beliau dan cita2 Rasulullah untuk tegaknya syariat Islam di muka bumi ini.....

Sedikit kata2 yang sampai detik ini menjadi penyemangat dalam berjuang di jalan dakwah ini:

"Amanah teremban pada pundak yang semakin lelah, bukan sebuah keluhan, ketidakterimaan ataupun surut langkah kebelakang, ini adalah awal pertempuran, awal pembangkitan..siapa diantara kita yang beriman, wahai diri sambutlah SeruanNya...Orang2 besar lahir karena perjuangan bukan menghindari dari peperangan "


" Dimana kita berpijak disitulah dakwah kita sebarkan "

" Dakwah berkembang di tangan orang-orang yang memiliki militansi dan semangat juang yang tidak pernah pudar, Ajaran yang mereka bawa melebihi usia mereka, Usia mujahid para pembawa misi dakwah tersebut tidaklah panjang namun cita2, semangat dan dan ajaran yang mereka bawa tetap hidup sepeninggal mereka"

Subhanallah...akankah muncul lagi sang Murabbi seperti beliau, yang berjuang tanpa kenal lelah dalam menegakan syariat Islam.....

Teman2 kitalah yang akan menjadi kader beliau, dan juga menjadi kader Rasulullah dalam meneruskan perjuangan mereka.....tetap semangat menjalani dakwah ini, karena satu tujuan... ALLAH....

Sahabat jangan pernah kau siakan Hidayah Allah yang tak ternilai harganya ini......jangan kau siakan perjuangan Rasulullah dan para sahabat, dan juga perjuangan dakwah Kh. Rahmat Abdullah.......



Sahabat dijalan dakwah ini kita pernah jatuh, kita tau betapa sakitnya jatuh itu, kita pernah hina, kita tau bagaimana rasanya itu, kita pernah merasa jenuh, dan kita tahu betapa membosankannya waktu itu....Sahabat, jalan ini memang pahit, karena apa??Karena Surga Allah itu Manis.....segala usaha dan perjuangan kita di dunia dalm menegakkan sayriat islam ini akan dibalas beratus kali lipat oleh Allah........Lakukan sekecil apapun yang kita bisa, lakukan dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan...sebagai bentuk rasa Syukur kita kepada Allah, yang telah menjadikan kita sebagai mujahidnya............mulai dari detik ini, mulai dari hal yang kecil dan mulai dari diri sendiri...



1 komentar:

Ifa Khasanah mengatakan...

siippplaaa..

Posting Komentar

 
;