Tapi, berdasarkan penagalaman yang saya alami sendiri....mungkin seperti itulah "CaraNya"
Tapi, berdasarkan penagalaman yang saya alami sendiri....mungkin seperti itulah "CaraNya"
Seandainya kita hidup di jaman Rasulullah..
lalu ada di mana kita??
Sedikit renungan,, dalam mencapai kasih sayang Allah dan Rasul.....Semoga bermanfaat....

Amanah, mendengar kata yang satu ini akan mengingatkan pada segudang beban yang harus dipertanggungjawabkan,....ya,..memang begitulah seharusnya...
Kita sebagai manusia, tak akan pernah lepas dari yang namanya amanah...
Seonggok kemanusiaan terkapar, siapa yang mengaku bertanggung jawab..??bila semua pihak menghindar, biar saya yang mengambilnya...semua atau sebagian,...saya harus mengambi l alih tanggung jawab ini, dengan kesedihan yang sungguh , seperti saya menangisinya saat pertama kali menginjakan kaki, di mata air peradaban modern ini...- Kh. Rahmat Abdullah-

Ada saat kita bekerja dan terus bekerja tanpa peduli penilaian orang pada pekerjaan kita...
Ada saat kita berbuat kebaikan tanpa peduli prasangka negatif orang kepada kita...
Ada saat kita berusaha melakukan yang terbaik tanpa peduli penilaian orang kepada kita..
Ada saat kita bisa menerima segala cobaan yang diberikan Allah dan yakin bahwa itulah yang terbaik untuk kita...
Ada saat kita mencintai seseorang tanpa berharap akan dibalas cinta olehnya....
Ada saat kita menyayangi seseorang tanpa berharap dapat memilikinya...
Ada saat kita menerima kekurangan kita dan berusaha mencintai kekurangan pasangan kita...
Walau terkadang ikhlas tak semudah dalam mengucapkannya....
Lisan dapat dengan mudah mengucapkan ikhlas, tapi hati tak mudah untuk menerimanya...

Sekilas Tentang Syaikh Tarbiyah Kh. Rahmat Abdullah


Sekalipun sudah berkeluarga, bukan halangan bagi Rahmat untuk terus berkiprah dalam dunia dakwah. Bersama Abu Ridho, Hilmi Aminudin, dan beberapa tokoh pemuda Islam pada saat itu, mereka tergabung dalam Harakah Islamiyah di era 80-an; halaqah dakwah yang terinspirasi dari pergerakan Al-Ikhwan Al-Muslimun yang didirikan Hasan Al-Banna. Inspirasi dakwah Hasan Al-Banna sebenarnya sudah lama menjadi acuan Rahmat Abdullah. Gayung pun bersambut. Beliau bertemu dengan rekan-rekannya yang seide dan sepemikiran. Bersama mereka, beliau berjuang melalui jalur pendidikan, kaderisasi, dan pengajian. Di wadah ini, Rahmat juga merintis sebuah majalah Islam yang banyak diminati pemuda Islam pada saat itu. Sayang, rezim orde baru yang berkuasa memaksa mereka untuk menutup segala aktivitas dakwahnya. Namun, hal itu tak menyurutkan semangat Rahmat untuk membuka lembaran baru di dalam dunia dakwah. Setelah lama berpetualang di dunia dakwah, bersama muridnya pada tahun 1993, Rahmat mendirikan Islamic Center Iqra’; lembaga Islam yang bergerak dalam pengembangan dunia pendidikan dan sosial, di Pondok Gede, Bekasi,
Pada tahun 2004, karir politiknya kembali melejit. Beliau terpilih sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Bandung, Jawa Barat. Dan pada pencalonan beliaulah pertama kalinya Bandung dimenangkan oleh partai Islam, sejak awal pemilu tahun 1955.
Dai sekaligus budayawan. Itulah Rahmat Abdullah. Perjalanan hidupnya dalam menyelami lautan dakwah banyak beliau rangkai dalam untaian bait-bait syair, puisi, serta artikel-artikel kecil
Kota Jakarta pun seakan menangis, mengucurkan hujan deras mengiringi kepergian beliau. Puluhan ribu muridnya tanpa kuasa menahan haru mengantarkan jenazahnya ke persemayaman terakhir. Syekh tarbiyah itu telah pergi, namun semangat dakwah yang diwariskan kepada murid-muridnya takkan memudar. Selamat jalan Ustad Rahmat…. Perjuangan yang telah lama engkau rintis ini, akan terus kami lanjutkan

Uas sudah di depan mata,....
Bukan hal yang harus dihindari, apalagi ditakuti
......Tapi harus dihadapi.....
bakal lebih diperketat lagi mengenai peraturan2 yang berlaku dalam UAS....diantaranya,..yang masih Inget:
1. UAS diawasi oleh DOSEN langsung, bukan dari kalangan mahasiswa lagi, untuk mengurangi adanya kecurangan...

2. Selama berlangsung Ujian dilarang keluar dari kelas, walaupun ke Toilet....(wew,ini rada sadis)

3. Sangsi bagi yang ketahuan mencontek akan langsung mendapat nilai E di semua mata kuliah selama satu semester....jadi otomatis harus mengulang satu semester lagi...(Wew yang ini lebih sadis gan)

4. Dan masih banyak peraturan2 yang harus dipatuhi.....yah,intiniya sih baik....untuk mencetak generasi penerus Bangsa yang berkualitas.....

Tapi yang namanya kuliah memang harus ada nilai...dan itupun sudah memiliki standart yang
harus tercapai agar bisa lulus dari mata kuliah tersebut.......
Teringat film 3 Idiots, bahwa kuliah itu juga gak mesti harus tentang nilai dan nilai...tapi yang lebih penting tentang pemahaman materi yang disampaikan,......
Yah,..intinya semua balik ke diri kita sendiri....Bagaimana kita menghadapi suatu Ujian,...apakah rela dengan berbagai cara yang bahkan Allah tidak akan Ridho........
Apakah rela mengganti Surga Allah hanya dengan sebuah nilai.....??
Yah...walaupun dulu yang namanya nyontek pas ujian tuh sering dilakukan

Belajar gak nyontek Mulai dari diri sendiri dan mulai dari Sekarang.....Semangat belajar!!!

Buat teman2 lain....Semangat ngadepin UASnya yah.........
Dibawa santai aja...
Gak usah sampai stres ngadepinnya...
Yang penting semangat belajarnya....
Sukses buat UASnya....isinya:
"Sedikit Renungan bagi kita semua..
Ternyata sifat kita dengan sifat Rasulullah SAW, berbeda "SEDIKIT"
Beliau sedikit tidur, qta sedikit2 tidur...
Beliau sedikit makan,.qta sedikit2 makan...
Beliau sedikit marah, qta sedikit2 marah...
Beliau sedikit bergurau, qta sedikit2 bergurau...
Beliau Sedikit2 beramal,.qta sedikit amalannya...
Beliau sedikit2 berkorban untuk islam,.qta sedikit pengorbanan untuk islam..
Beliau sedikit2 beristigfar, qta sedikit beristigfar...
Beliau selalu memikirkan umatnya dibanding memikirkan dirinya sendiri...kita selalu memikirkan diri sendiri dibanding memikirkan umat lain....
Jadi kapan kita mulai berusaha mengejar perbedaan yang hanya "SEDIKIT" itu??"
Ya Allah...bener2,,.kata2nya simple,.tapi maknanya begitu dalam....
jadi malu sama diri sendiri....
Astagfirullah.....
Note: Yang 3 kebawah ane tambahin sendiri...:)
Temen2 saling mengingatkan yah.....
Jika ditanya apakah anda mau masuk surga??tentu saja 100% dan dengan yakin mereka menjawab "Iy, saya mau masuk surga". tentu saja semua orang pasti menginginkan masuk surga. Tapi apakah mereka sudah yakin dengan segala ibadah yang mereka lakukan selama ini dapat dengan mudah masuk ke Surganya Allah????Lalu bagaimana dengan maksiat2 yang pernah kita lakukan dahulu, apakah sebanding dengan ibadah kita kepada Allah??apakah jauh lebih banyak kita melakukan maksiat dibanding dengan menjalani ibadah kepada Allah?
Mungkin hanya sedikit dari kita yang menyadari betapa banyak dosa yang telah kita lakukan kepada Allah,.,.mulai dari kita bangun tidur, beraktifitas di siang hari, hingga sampai saat kita tidur kembali. Seberapa sering kita menunda-nunda panggilan Alah untuk melaksanakan Shalat subuh??saat azan memanggil, kita makin asik berkutat dengan bantal dan selimut, jika bangun juga kita tidak langsung mengambil wudhu dan segera melaksanakan Shalat, walaupun sudah terlambat, kita memilih untuk tidak Shalat subuh, dengan alasan yang sangat sepele..”Duch kesiangan nih,..g usah Shalat Subuh lah…dah telat nih” padahal jika memang benar2 ia niat untuk melaksanakan Shalat, dan benar2 terlelap tidurnya karena kecapean, maka dibolehkan untuk melaksanakan Shalat walau sudah bukan waktunya,…mungkin itu hanya sebagian kecil dari dosa kecil yang kita lakukan hampir setiap hari, pernah saya bertanya kepada seorang teman yang muslim, tapi ia enggan melaksanakan Shalat, dan yang saya terima adalah jawaban yang tidak logis..ada yang bilang bahwa ia tidak mau dilihat oleh orang2 sebagai orang yang “rajin Sholat” menurut dya, orang yang rajin sholat itu identik dengan orang2 yang di cap sebagai orang “baik-baik”. Benar2 jawaban yang tidak logis, pernah saya bertanya kepada seorang teman lagi, dan saya minta satu alasan saja mengapa ia tidak mau Sholat, dan ia hanya diam, dya tidak bisa memberikan satu alasan, mengapa ia tidak mau sholat, tapi saya terus memaksa ia, dan apa yang ia jawab sungguh mengejutkan, ia bilang “Hidup-hidup gw ini ko” Astagfirullah, benar2 jawaban yang mematahkan semua alasan yang saya berikan agar ia mau sholat.
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al Quran), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih” QS. An Nahl :104
Semoga kita tidak termasuk dalam orang-orang seperti itu…amin...
Bahkan, banyak dari kita yang merelakan menunda bahkan meninggalkan Shalat demi sinetron di Tv, atau bahkan menunda sholat hanya untuk menghisap sebatang rokok, apa yang mereka bilang,..”Nanggung Blum habis rokonya”, begitu mudah nya mereka meninggalkan Sholat demi hal2 yang tidak berguna seperti itu…
Lalu bagaimana dengan lisan kita, yang jarang sekali mengucapkan kalimat Zikir, ataupun kalimat yang bermanfaat, bahkan dengan mudahnya lisan kita ini mengucapkan kalimat-kalimat kotor yang sangat tak pantas, dan mengucapkannya tanpa rasa bersalah dan berdosa sedikitpun. Kita rela bangun tengah malam untuk sekedar menonton jagoan sepak bolanya bermain, tapi tidak pernah rela bangun malam untuk menghadap dan memohon ampun pada Allah dalam sholat Tahajud, kita sanggup membaca Novel “Harry Poter” yang tebalnya naudzubillah, yang mungkin jika ditimpukan ke maling, maling itu akan langsung minta ampun, tapi kita tidak sanggup bahkan malas untuk membaca Al-Quran yang jauh lebih indah dan akan meneranginya di alam kubur nanti, kita rela mengeluarkan uang untuk membeli sebungkus rokok yang akan habis dalam beberapa jam,.tapi sulit sekali untuk mengeluarkan uang kita untuk bersedekah kepada fakir miskin yang pahalanya tidak akan habis-habis. Mungkin itu hanya sebagian dari dosa yang kita buat, hanya dari meninggalkan Shalat, lisan kita dan perbuatan kita, lalu bagaimana dengan mata kita, telinga kita, tangan kita, dan kaki kita, hati kita??
ah…mungkin hanya diri kita sendiri yang bisa menjawabnya….silakhan kita coba introspeksi diri sendiri.....
Kalo sudah begitu, apakah kita masih pantas mendapat Surganya Allah???dengan semua dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan???
Apakah Allah akan Ridho kita yang berlumuran dosa, yang sering lalai pada perintahNya, bahkan sering melanggar perintahnya untuk masuk ke dalam Surga Allah yang berisi orang2 yang rajin beribadah??
Tenang kawan….Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, seberapa besarpun dosa yang kita pernah lakukan.
“Mereka meminta kepadamu supaya disegerakan (datangnya) siksa, sebelum (mereka meminta) kebaikan, padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksa sebelum mereka. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai (yang luas) bagi manusia sekalipun mereka zalim, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksanya”QS. Ar-Ra’d:13
Teman-teman sebelum Allah menyuruh Malaikat Izroil untuk menjemput kita, sebelum nafas terakhir kita habiskan, sebelum masa muda kita terbuang sia dengan penuh dosa, sebelum semua terlambat, sebelum kita menyesal di kemudian hari...Yuk kita sama2 introspeksi diri, hisab diri kita sekarang, sebelum nanti dihisab Allah di Yaumul Akhir........Saling mengingatkan dalam hal yang baik, dan juga FastabikhulKhoirat: Berlomba-lomba dalam kebaikan.....
Insya Allah.......Surga itu bisa kita raih......
*Semoga Tulisan ini bisa saling mengingatkan kita gak ada maksud buat menggurui,sok tau dan Sok suci yg merasa ibadahnya paling banyak dan gak punya dosa,......Sahabat, Sungguh dirku juga hanya manusia biasa yang tak akan lepas dari yang namanya dosa......semoga dengan membaca tulisan ini kita kamu, aku dan kita bisa sedikit membuka mata hati kita untuk melihat kedepan,..bukan hanya sibuk memikirkan dunia, tapi juga memikirkan kehidupan yang lebih kekal di akhirat kelak,..Insya Allah,...semangat y temen2, yuk kita sama2 meraih Surga Allah....
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu. "Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya." Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu." Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel. "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?" "Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi deganku," kata pohon apel. "Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?" "Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah." Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. "Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu." "Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel. "Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu. "Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. "Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu." "Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang." Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.
Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan. Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya; dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.
*walau sudah di repost berkali2 Insya Allah akan selalu mengingatkan kita kepada Orang tua kita....Insya Allah,...
Jika bermanfaat,...sebarkan..Insya Allah pahalanya tak kan pernah putus....

Bayangkan apabila Rasulullah dengan seijin Allah tiba-tiba muncul mengetuk pintu rumah kita. Beliau datang dengan tersenyum dan muka bersih di muka pintu rumah kita, Apa yang akan kita lakukan? Mestinya kita akan sangat berbahagia, memeluk beliau erat-erat dan lantas mempersilahkan beliau masuk ke ruang tamu kita. Kemudian kita tentunya akan meminta dengan sangat agar Rasulullah sudi menginap beberapa hari di rumah kita. Beliau tentu tersenyum........
Tapi barangkali kita meminta pula Rasulullah menunggu sebentar di depan pintu karena kita teringat Video CD rated R18+ yang ada di ruang tengah dan kita tergesa-gesa memindahkan dahulu video tersebut ke dalam.
Beliau tentu tetap tersenyum........
Atau barangkali kita teringat akan lukisan wanita setengah telanjang yang kita pajang di ruang tamu kita, sehingga kita terpaksa juga memindahkannya ke belakang secara tergesa-gesa.
Barangkali kita akan memindahkan lafal Allah dan Muhammad yang ada di ruang samping dan kita meletakkannya di ruang tamu.
Beliau tentu tersenyum.......
Bagaimana bila kemudian Rasulullah bersedia menginap di rumah kita? Barangkali kita teringat bahwa kita lebih hapal lagu-lagu barat daripada menghapal Shalawat kepada Rasulullah SAW.
Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengetahui sedikitpun sejarah Rasulullah SAW karena kita lupa dan lalai mempelajarinya.
Beliau tentu tersenyum........
Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengetahui satupun nama keluarga Rasulullah dan sahabatnya tetapi hapal di luar kepala mengenai anggota Indonesian Idols atau AFI.
Barangkali kita terpaksa harus menyulap satu kamar mandi menjadi ruang shalat. Atau barangkali kita teringat bahwa perempuan di rumah kita tidak memiliki koleksi pakaian yang pantas untuk berhadapan kepada Rasulullah.
Beliau tentu tersenyum........
Belum lagi koleksi buku-buku kita. Belum lagi koleksi kaset kita. Belum lagi koleksi karaoke kita. Kemana kita harus menyingkirkan semua koleksi tersebut demi menghormati junjungan kita?
Barangkali kita menjadi malu diketahui junjungan kita bahwa kita tidak pernah ke masjid meskipun adzan berbunyi.
Beliau tentu tersenyum........
Barangkali kita menjadi malu karena pada saat Maghrib keluarga kita malah sibuk di depan TV.
Barangkali kita menjadi malu karena kita menghabiskan hampir seluruh waktu kita untuk mencari kesenangan duniawi.
Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita tidak pernah menjalankan shalat sunnah.
Barangkali kita menjadi malu karena keluarga kita sangat jarang membaca Al-Qur'an.
Barangkali kita menjadi malu bahwa kita tidak mengenal tetangga-tetangga kita.
Beliau tentu tersenyum.......
Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah menanyakan kepada kita siapa nama tukang sampah yang setiap hari lewat di depan rumah kita.
Barangkali kita menjadi malu jika Rasulullah bertanya tentang nama dan alamat tukang penjaga masjid di kampung kita.
Betapa senyum beliau masih ada di situ........
Bayangkan apabila Rasulullah tiba-tiba muncul di depan rumah kita. Apa yang akan kita lakukan? Masihkah kita memeluk junjungan kita dan mempersilahkan beliau masuk dan menginap di rumah kita?
Ataukah akhirnya dengan berat hati, kita akan menolak beliau berkunjung ke rumah karena hal itu akan sangat membuat kita repot dan malu.
Maafkan kami ya Rasulullah.........
Masihkah beliau tersenyum?
Senyum pilu, senyum sedih dan senyum getir........
Oh betapa memalukannya kehidupan kita saat ini di mata Rasulullah........
Sumber: Dudung.net
*cuma buat muhasabah diri*
Renungkan kawan.......
Hidup Adalah Anugrah
Pada suatu hari ada seorang gadis buta yg sangat membenci dirinya sendiri karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya. Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi gadis itu kalau gadisnya sudah bisa melihat dunia.
Suatu hari ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepada gadis itu. Yang akhirnya si gadis bisa melihat segala hal, termasuk kekasihnya. Kekasihnya bertanya kepada gadisnya itu , ” Sayangggg … sekarang kamu sudah bisa melihat dunia, Apakah engkau mau menikah denganku?”. Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya itu ternyata buta. Dan dia menolak untuk menikahi si pria pacar-nya itu yg selama ini sudah sangat setia sekali mendampingi hidupnya selama si gadis itu buta matanya. Dan akhirnya si Pria kekasihnya itu pergi dengan meneteskan air mata, dan kemudian menuliskan sepucuk surat singkat kepada gadisnya itu, “Sayangku, tolong engkau jaga baik-baik kedua mata yg telah aku berikan kepadamu”.
* * * *
Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.
• Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata-kata kasar ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.
• Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu, ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.
• Sebelum engkau mengeluh tentang orang tuamu, ingatlah akan seorang anak yang menangis kepada Allah untuk meminta kesembuhan atas penyakit orang tuanya.
• Ketika engkau lelah dan mengeluh tentang sekolahmu, ingatlah akan anak-anak yang menginginkan untuk melanjutkan sekolah, namun tidak memiliki biaya untuk itu.
• Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu, ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi ke alam kubur dengan masih menyertakan dosanya.
• Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu, pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Allah swt karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini.
Hidup adalah anugerah, syukurilah, jalanilah, nikmatilah dan isilah hidup ini dengan sesuatu yg bermanfaat untuk umat manusia.
NIKMATILAH dan BERI YANG TERBAIK DI SETIAP DETIK DALAM HIDUPMU, KARENA ITU TIDAK AKAN TERULANG LAGI untuk waktumu selanjutnya !!!
Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari cerita diatas.. Aaaaaamin....
Wassalamu'alaykum Wr.Wb.







- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact